KHUTBAH JUM'AT 5 M KUA BOJONGSARI
MENYIKAPI WABAH VIRUS CORONA
FK PAI KUA KECAMATAN BOJONGSARI PURBALINGGA
KHUTBAH
PERTAMA
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحَمْدللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن أَشْهَدُ
أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ
مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ و
أًصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِأِحْسَانٍ أِلَى يَوْمِ الدِّيَنَ ,
أما بعد : فَيَا أَيُّهَاالنَّاسُ
أُوْصِيْكُمْ وَأِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيْمِ
: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا
تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ , يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا
Hadirin jamaah
jum’at rohimakumulloh,
Saat ini
kita dihadapkan terjadinya wabah virus Covid 19 atau
dikenal juga dengan virus corona. Badan kesehatan dunia, WHO, menyatakan bahwa
wabah virus ini sebagai pandemi yang menjadi masalah global. Pemerintah
Indonesia pun telah menjadikan wabah ini menjadi bencana nasional. Massifnya
penyebaran virus ini menyebabkan beberapa negara atau wilayah telah melakukan
kegiatan lockdown untuk memutus mata rantai penyebarannya.
Hadirin
jamaah jum’at rohimakumulloh,
Dalam perspektif ajaran Islam, wabah dapat
dimaknai sebagai musibah yang bisa menimpa kepada siapa saja, kapan saja dan di
mana saja. Sebagaimana Allah tegaskan dalam Al Qur’an surat
Al-Baqarah ayat 155, yang berbunyi :
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ
الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ
وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Dan sungguh
akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar
Ayat ini
menunjukkan kepada kita bahwa musibah atau bencana adalah keniscayaan yang
harus dihadapi oleh setiap manusia.
Setiap peristiwa merupakan takdir Allah, yang
dimaknai dengan sebuah ketetapan dan ketentuan yang telah terjadi di hadapan
kita. Hanya Allah saja yang mengetahui ketetapan dan ketentuan-Nya dan manusia hanya
dapat mengetahuinya ketika telah terjadi. Dengan demikian, manusia wajib
memohon kepada Allah dan berusaha untuk menyikapinya dengan penuh kesabaran
dalam rangka merubah keadaan yang dihadapinya agar menjadi lebih baik. Allah
SWT menegaskan dalam firman-Nya surat al-Anfaal ayat 53:
ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ
مُغَيِّرًا نِّعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا
بِاَنْفُسِهِمْۙ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ
Yang
demikian [siksaan] itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan
merobah sesuatu ni’mat yang telah
dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merobah apa yang ada
pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui
Hadirin
jamaah jum’at rohimakumulloh,
Kasus virus
corona merupakan bagian dari bencana non alam berupa epidemi atau wabah.
Epidemi adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat
yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari keadaan lazim
pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Sebagai
bagian dari bencana, maka harus disikapi secara cepat dan tepat. Seluruh pihak
harus memiliki kepedulian untuk terlibat aktif dalam pencegahan penyebaran
virus ini. Tentunya di antara pihak yang paling bertanggungjawab adalah
pemerintah. Karena pemerintah lah yang mengemban amanat rakyat dalam pengaturan
urusan hidup yang berkaitan dengan publik dan karena pemerintah yang memiliki
wewenang untuk menggunakan dan menyalurkan segenap potensi dan sumberdaya yang
diperlukan terkait dengan penanganan bencana. Apabila pemerintah abai akan
tugas ini, maka Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Mu’awiyah;
مَنْ وَلَّاهُ اللهُ عَزَّوَجَلَّ
شَيْأًمِنْ أَمْرِالْمُسْلِمِيْنَ فَاحْتَجَبَ دُوْنَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ
وَفَقْرِهِمْ اِحْتَجَبَ اللهُ عَنْهُ دُوْنَ حَاجَتِهِ وَ خَلَّتِهِ وَ فَقْرِهِ
(رواه أبوداود)
Barangsiapa
yang ditakdirkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk menjadi pemimpin yang mengemban
amanat kaum muslimin, lalu dia menghindar dari kebutuhan, kekurangan, dan
kefaqiran rakyatnya, maka Allah akan menutup diri darinya ketika ia kekurangan,
membutuhkan, dan dalam kefaqiran (H.R. Abu Dawud)
Hadirin,
walau penanganan bencana itu menjadi otoritas pemerintah, kita sebagai anggota
masyarakat tidak boleh bersikap masa bodoh dan berdiam diri. Sebagai seorang
manusia harus saling menolong satu sama lain, tanpa mengenal latar belakang
suku, ras maupun agama. Sesama manusia harus memiliki sikap empati dan simpati kepada
para korban, sehingga senantiasa menjauhkan diri dari sikap menghakimi dan saling menyalahkan. Secara bersama perlu
membangun kesadaran, pemahaman dan sikap yang sama untuk secara aktif terlibat
dalam mencegah penyebaran virus corona semakin meluas, sehingga semakin
mempercepat wabah ini berakhir.
Hadirin
jamaah jum’at rohimakumulloh,
Di antara
hal-hal yang dapat di lakukan seorang muslim dan sekaligus bagian dari anggota
masyarakat dalam pencegahan wabah virus corona ini adalah sebagai berikut :
1.
Memperkuat dan mempertebal keimanan
kepada Allah SWT.
Iman yang kuat akan menuntun pada sikap hidup
optimis dan yakin akan pertolongan Allah. Seorang muslim yang istiqomah dalam
iman kepada Allah, akan ditiadakan rasa takut dalam dirinya. Sebagaimana firman
Allah dalam surat Fushilat ayat 30
:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا
اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا
تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ
تُوْعَدُوْن٠
“Sesungguhnya
orang-orang yang berkata bahwa Tuhan kami adalah Allah dan mereka istiqomah,
maka malaikat akan turun kepada mereka dan berkata; “janganlah
kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu
memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu”
Iman yang
kuat akan menuntun pada sikap sabar.
Bersabar bagi seorang muslim hakekatnya adalah kesadaran bahwa apapun yang
terjadi pada dirinya adalah rahmat Allah dan selanjutnya akan berusaha untuk
merubah kondisi yang dihadapinya untuk menciptakan kebaikan-kebaikan di masa
yang akan datang.
2.
Mengisolasi diri, menahan diri untuk
tidak berkumpul dengan banyak orang.
Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ
فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا
مِنْهَا
Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka
janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada,
maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR
Bukhari)
Hadits ini
mengajarkan keharusan berusaha menghindari keburukan yang mungkin terjadi dari
suatu wabah yang sedang berkembang di suatu wilayah. Mengisolasi dan menahan
diri untuk tidak bertemu dengan orang banyak dan atau untuk tidak bepergian,
terlebih ke daerah yang endemic merupakan suatu pilihan yang harus diambil oleh
setiap muslim. Dengan kata lain, sebagai seorang muslim dituntut untuk mampu
melakukan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana sehingga dapat mengurangi
resiko bencana, terutama terkait korban manusia.
Adapun
terkait kegiatan ibadah di masjid atau mushola. Upaya pembatasan kegiatan
ibadah berjama’ah dan pengajian di
masjid atau mushola bukanlah untuk menjauhkan umat muslim dari masjid. Tetapi
justeru ini sebagai bagian ikhtiar menjemput takdir Allah yang lain. Dalam
sebuah hadits dari Imam Bukhori diriwayatkan bahwa Umar sedang dalam perjalanan
menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar
adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar
jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata,
“Jika kamu
mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika
terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”
Mendengar
hadits tersebut, Umar memilih kembali ke Madinah. Keputusan Umar sempat
disangsikan Abu Ubaidah bin Jarrah. Dia adalah pemimpin rombongan yang dibawa
Khalifah Umar. Menurut Abu Ubaidah, Umar tak seharusnya kembali karena
bertentangan dengan perintah Allah SWT. Umar menjawab dia tidak melarikan diri
dari ketentuan Allah SWT, namun menuju ketentuanNya yang lain. Jawaban
Abdurrahman bin Auf ikut menguatkan keputusan khalifah tidak melanjutkan
perjalanan karena wabah penyakit.
Selain
protokol di atas, kini mulai digalakkan aksi 5M untuk melawan COVID-19 di masa
pandemi Corona yang hingga kini belum berakhir. Apa itu gerakan 5M ? Dihimpun
dari beberapa sumber, makna gerakan 5M setidaknya ada dua versi. Versi pertama
adalah sebagai pelengkap aksi 3M. Gerakan 5M yaitu memakai masker, mencuci
tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta
membatasi mobilisasi dan interaksi. "Sudah tidak lagi 3M, menekan
penyebaran virus Corona perlu penerapan protokol kesehatan 5M. Perlu kesadaran
masyarakat, mengingat di jalanan kadang banyak yang tidak mematuhi protokol
kesehatan.
3.
Saling menguatkan dan tolong menolong
Tidak ada seorang pun yang ingin tertimpa
musibah. Tetapi tidak ada seorang pun yang bisa memastikan bahwa dirinya akan
terbebas darinya. Untuk itulah setiap orang, terlebih seorang muslim, harus mau
untuk saling menguatkan dan saling menolong satu sama lain, bahu membahu
bagaimana menciptakan kebaikan. Saling bertukar informasi yang valid dan benar.
Bahkan bila suatu saat akan dilakukan lockdown, maka setiap anggota masyarakat
bisa saling memberi dan menjaga ketersediaan bahan pokok. Bukan sebaliknya
malah memanfaatkan kondisi bencana untuk meraup keuntungan pribadi. Al-Qur’an tegas mengajarkan kepada kita:
وَتَعَاوَنُوْا
عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“… dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”
(Q.S. AlMaidah ayat 2)
Hadirin
yang berbahagia, itulah tiga hal yang bisa kita jadikan pedoman dalam
menghadapi situasi-situasi sulit karena virus corona ini. Tetaplah kita dalam
iman kepada Allah, jangan panik dan terus berdoa dan mendekatkan diri kepada
Allah SWT.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ
الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ
إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَاْلعَاقِبَةُ
لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريْـكَ لَهُ، الْمَلِك ُالْحَقُّ الْمُبِيْنُ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً
لِلْعَالَمِيْنَ. وَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَى عَلَى نَبِيِّـنَا
مُحَمَّدٍ، وَعَليَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجـْمـَعِيْنَ. أَمَّا بَعْـدُ
فَيَاأَيُّهَا الْإِخْوَانُ فِـى الدِّيْنِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى
اللهِ حَقَّ تَقْوَاهُ، لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.
Hadirin
jamaah jum’at rohimakumulloh,
Marilah kita
akhiri renungan Jum’at ini
dengan berdoa ke hadirat Allah SwT. Semoga Allah menjadikan
kita, diantara hamba-Nya yang selalu waspada akan kemungkinan munculnya
ujian/cobaan atau musibah yang datangnya sering kali tiba-tiba dan tidak pernah
kita duga.
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي آلِهِ وَاَصْحَابِهِ
أَجْمَعِيْنَ (*) اَللَّهُمَّ رَبَّــنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَـمْ
تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ (*) االلَّهُمَّ
إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ
وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ (*) اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ
مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرْكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ
الْأَعْدَاءِ (*) اللَّهُمَّ إِنَّا
نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ
الْأَسْقَامِ (*) رَبَّنَا آتِنَا فِى
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (*) سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا
يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَاْلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ (*)

👌👍👍👍👍
BalasHapus